Bersama kesulitan ada kemudahan


Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan
seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap.
“Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-
tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul
erat lengan induknya. Sang ibu menyambut
rangkulan itu dengan belaian lembut.
“Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan
pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda
baik", jelas induk katak sambil terus membelai.
Dan anak katak itu pun mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan
tangkai kering yang berserakan mulai
beterbangan. Pepohonan meliuk-liuk
dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu
pemandangan menakutkan buat si katak kecil.
“Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-
tunggu?” tanya si anak katak sambil
bersembunyi di balik tubuh induknya.
“Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak
terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau
yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya
untuk menenangkan. Dan anak katak itu pun
mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin
kencang yang tampak menakutkan.
“Blarrr!” suara petir menyambar-nyambar.
Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan
suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak
katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja
merangkul dan sembunyi di balik tubuh
induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat
takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus
memejamkan mata.
“Sabar, anakku!” ucapnya sambil terus
membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau
yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah.
Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan
itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi
datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.
Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh
induknya. Ia mencoba menengadah, memandangi
langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan
dahan, dan sambaran petir yang begitu
menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang,
“Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ ۩Ϫ ۩ ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Anugrah hidup kadang tampil melalui rute yang
tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan
tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh
pelayan-pelayan nan rupawan. Tidak disegarkan
dengan wewangian harum.
Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya
dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak
yang takut cuma karena langit hitam, angin yang
bertiup kencang, dan kilatan petir yang
menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-
tanda hujan.
Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan
takut melangkah, jangan sembunyi dari
kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang
ditunggu, insya Allah, akan datang. Bersama
kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama
kesukaran ada kemudahan.


Sumber : Lampuislam.blogspot.nl dari eramuslim.com


awan Rabu, 17 September 2014
Sebab-sebab turunnya rezeki

Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan
masalah penghasilan atau rizki, entah karena
merasa kurang banyak atau karena kurang
berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan,
mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta
bermacam-macam tuntutannya. Sehingga
masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang
menyibukkan, bahkan membuat bingung dan
stress sebagian orang. Maka tak jarang di antara
mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan
menempuh segala cara yang penting keinginan
tercapai. Akibatnya bermunculanlah koruptor,
pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan
sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan
silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada
Allah untuk mendapatkan uang atau alasan
kebutuhan hidup.
Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan
kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang
dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan
yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan
rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta
menggunakan cara-cara itu, Allah juga
memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan
sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa
disangka-sangka.
Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki
adalah sebagai berikut:
- Takwa Kepada Allah
Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat
mendatangkan rizki dan menjadikannya terus
bertambah. Allah Subhannahu wa Ta”ala
berfirman, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah
niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke
luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada
disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)
Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala
yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka
Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di
akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak
pahala yang dia peroleh adalah Allah akan
menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap
permasalahan dan problematika hidup, dan Allah
akan memberikan kepadanya rizki secara tidak
terduga.
Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di
atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada
Allah dalam segala yang diperintahkan dan
menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah
akan memberikan jalan keluar dalam setiap
urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari
arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan
yang tidak pernah terlintas sama sekali
sebelumnya.”
Allah swt juga berfirman, artinya,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.” (QS. 7:96)
- Istighfar dan Taubat
Termasuk sebab yang mendatang kan rizki
adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman
Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh
Alaihissalam ,
“Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah
ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan
mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan
membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan
mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)
Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan
juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat
petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab
turunnya rizki dan hujan.”
Ada seseorang yang mengadukan kekeringan
kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata,
“Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain
yang mengadukan kefakirannya, dan beliau
menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada
lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah
agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau
menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang
kering kerontang, beliau pun juga menjawab,
“Beristighfarlah kepada Allah.”
Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang
berdatangan mengadukan berbagai persoalan,
namun anda memerintahkan mereka semua agar
beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku
mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya
Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,
(seperti tersebut diatas, red)
Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar
dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala
dosa, karena orang yang beristighfar dengan
lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus
dia kerjakan dan hati masih senantiasa
menyukainya maka ini merupakan istighfar yang
dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan
faidah dan manfaat sebagaimana yang
diharapkan.
- Tawakkal Kepada Allah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya.” (QS. 65:3)
Nabi saw telah bersabda, artinya,
“Seandainya kalian mau bertawakkal kepada
Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah
akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana
burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam
keadaan lapar dan kembali dalam keadaan
kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan
dishahihkan al-Albani)
Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk
memperlihatkan kelemahan diri dan sikap
bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui
dengan yakin bahwa hanya Allah yang
memberikan pengaruh di dalam kehidupan.
Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki,
pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan
kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan
kehidupan dan selainnya adalah dari Allah
semata.
Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang
di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu
menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada
Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan
(mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya)
dalam seluruh urusan dunia dan akhirat,
menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah
serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada
yang dapat memberi dan menahan, tidak ada
yang mendatangkan madharat dan manfaat
selain Dia.
- Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa
silaturrahim merupakan salah satu sebab
terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah
sebagai berikut:
-Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
“Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya
dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah
menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)
-Sabda Nabi saw, artinya,
“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah
orang yang ada hubungan nasab denganmu yang
engkau harus menyambung hubungan
kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya
silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam
keluarga, memperbanyak harta dan
memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan
al-Albani)
Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham)
adalah siapa saja yang ada hubungan nasab
antara kita dengan mereka, baik itu ada
hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan
mahram.
- Infaq fi Sabilillah
Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan,
maka Allah akan menggantinya dan Dia lah
Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)
Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau
infakkan di dalam hal yang diperintahkan
kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia
(Allah) akan memberikan ganti kepadamu di
dunia dan memberikan pahala dan balasan di
akhirat kelak.”
Juga firman Allah yang lain,artinya,
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di
jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang kami
keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah
kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu
nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri
tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah,
bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu
dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan
untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (QS. 2:267-268)
Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw
bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak
Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak
kepadamu.” (HR Muslim)
- Menyambung Haji dengan Umrah
Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi
wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia
berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda, artinya,
“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya
keduanya akan menghilangkan kefakiran dan
dosa sebagaimana pande besi menghilangkan
karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang
mabrur tidak ada balasannya kecuali
surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai,
dishahihkan al-Albani)
Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti
haji tersebut dengan umrah, dan jika kita
melakukan umrah maka ikuti atau sambung
umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.
- Berbuat Baik kepada Orang Lemah
Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan
memberikan rizki dan pertolongan kepada
hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik)
kepada orang-orang lemah, beliau bersabda,
artinya,
“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan
diberikan rizki melainkan karena orang-orang
lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)
Dhu”afa” (orang-orang lemah) klasifikasinya
bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin,
orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar,
hamba sahaya dan lain sebagainya.
- Serius di dalam Beribadah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu
anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam
bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta”ala
berfirman, artinya,
“Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah
engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan
memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku
menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak
melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu
dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung
kefakiranmu.”
Tekun beribadah bukan berarti siang malam
duduk di dalam masjid serta tidak bekerja,
namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan
hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan
khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang
menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin
sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat,
mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit
dan Bumi.
Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain,
seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah,
bersandar kepada Allah, meninggalkan
kemaksiatan, istiqamah serta melakukan
ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara
lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini.
Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan
bimbingan kepada kita semua. Amin.
Al-Sofwah( Sumber: Kutaib “Al Asbab al Jalibah
lir Rizqi”, al-qism al-ilmi Darul Wathan. )/
Bambang Ant

Sumber blog eramuslim.com

awan Senin, 15 September 2014
Dari jasmani sampai rohani

Ironis. Satu kata yang lebih dari cukup untuk mendeskripsikan betapa rusaknya mental pejabat di negeri tercinta ini. Telinga ini lagi-lagi harus mendengar kata korupsi. Basi ya? Tapi itu yang terjadi. Korupsi di kalangan elit DPR hingga ke kursi empuk kementrian. Mulai dari urusan perut atau jasmani; korupsi daging sapi, korupsi pengadaan sarana olahraga, korupsi di bidang energi, sampai ke korupsi urusan kebutuhan rohani a.k.a dana haji. Hancurnya negeriku.
Indonesia yang katanya negeri kaya memang benar, kaya pejabatnya. Katanya orangnya pinter-pinter dan kreatif emang benar, pinter nipu dan kreatif ngeles alias bersilat lidah, pinter akting juga di depan wartawan hihihi. Yaah itulah kenyataan yang dihadapi kalau diberi ujian harta dan tahta. Terima saja sekarang hukuman dunianya.
Anyway, sebenarnya ada solusi dari semua masalah mental ini. Yaa saya kan menulis bukan bermaksud menghujat, biar nggak dikira menghujat makanya saya coba kasih solusi. Cuma ada satu solusiny, belajar dari sejarah.
Saya sebagai muslim, percaya bahwa semua masalah ada solusinya di dalam Al Qur'an. Kita lihat sejarah Nabi-nabi dan permasalahan yang terjadi di dalamnya. Perlu diingat, Allah SWT menceritakan kisah Nabi di Al Qur'an bukan untuk menjadi sebuah dongeng, tapi sebuah pelajaran. Mari sedikit saya jabarkan sesuai pemahaman yang saya tahu.
Nabi-nabi oleh Allah SWT diturunkan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh umatnya yang menyalahi aturan Allah SWT. Contoh, umat Nabi Nuh adalah umat yang pandai. Mereka pandai berbicara dan berargumentasi. Akan tetapi moral mereka rusak karena menyembah berhala. Allah menegur mereka dengan menurunkan Nabi Nuh dengan salah satu mukjizat pandai berargumentasi. Karena masih keras kepala, maka Allah menghukum mereka dengan ditenggelamkan. Hal dan masalah serupa juga terjadi di zaman Nabi Ibrahim, Allah menganugerahi beliau pikiran yang cerdas dan kemampuan berargumentasi yang sangat kuat. Bahkan beliau adalah manusia dengan IQ tertinggi. Yaa, Ibrahim a.s bukan Einstein. Di masa Nabi setelah itu ada Nabi Musa. Di era Nabi Musa, masyarakatnya sangat fanatik dan percaya dengan sihir. Dan pentolan dunia gelap mereka adalah Fir'aun. Allah pun menurunkan Nabi Musa dengan mukjizat mampu merubah tongkat menjadi ular yang seolah-olah seperti sihir menurut mereka. Lanjut lagi ke masa Nabi Isa. Masyarakat pada masa itu sangat "mendewakan" pengobatan, baik secara medis oleh tabib ataupu  secara magis oleh dukun. Lagi-lagi Allah menurunkan Nabi dengan mukjizat mampu menyembuhkan  orang berpenyakit lepra dan buta dari lahir, yaitu Nabi Isa. Dan di masa Nabi Muhammad SAW, masalah yang dihadapi adalah kerusakan mental secara menyeluruh di semua aspek kehidupan. Allah pun mengutus Nabi terakhir yang ditugaskan untuk memperbaiki akhlak manusia. Allah pun tak lupa memberi "guide book" yaitu Al Qur'an sebagai pedoman perbaikan akhlak, dan Al Hadist yang bersumber dari Nabi Mubammad SAW sebagai contoh sempurna sebaik-baik akhlak.
Mari kita lihat polanya. Masalah datang kemudian diutus orang yang sesuai dengan bidangnya. Apabila masih keras kepala, hukuman lah sebagai jalan terakhir sebagai wujud ketegasan. Apabila hal ini kita terapkan di Indonesia, saya jamin 1000% tidak akan lagi korupsi di Indonesia. Kita laksanakan hukuman sesuai petunjuk dari Allah yaitu potong tangan. Hukum ini sangat layak dan bahkan wajib dilaksanakan di Indonesia, fungsinya untuk efek jera. Mengapa? Karena masyarakat kita terutama pejabat itu tidak kapok dan tidak takut melihat teman sejawatnya hanya dipenjara saja. Mereka sampe detik ini pun masih berani korupsi, karena hukumannya ringan. Terlalu ringan untuk sekelas koruptor "sang pembunuh masal". Buktinya masih ada aja tuh yang korupsi. Sampai dana haji lagi yang di korupsi. Wong edan memang.
Makanya coba deh terapin sekali saja hukum potong tangan untuk koruptor. Bawa ke tengah keramaian, disaksikan masyarakat, di tayangkan di semua media, supaya pejabat lain yang mau korupsi bener-bener takut untuk korupsi. Mungkin ada yang koar-koar itu melanggar HAM atau itu bikin malu keluarganya. Hey saya kasih tahu, jangan takut sama tanggapan negara lain! Ini urusan negara kita, kita yang lebih tahu, biarkan saja mereka komentar! Biar ini jadi contoh bahwa kita bangsa yang tegas! Kalau untuk argumen yang bilang nanti bikin malu keluarganya, saya cuma bisa bilang; sukurin! Saya kasih tahu ya, hampir 90% motivasi si pejabat itu korupsi ya gara-gara keluarganya. Keluarganya hidup konsumtif, hedonis, dan foya-foya. Bapak-bapak yang tugasnya nyari duit, pasti ngelakuin apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya! Selain itu, keluarganya juga salah karena tidak cermat. Suami misalnya bulan kemarin gaji cuma 5 juta, bulan ini ngasih uang 20 juta. Istrinya diem aja, tidak nanya dulu ini uang darimana! Yang ada malah bilang "Kenapa nggak dari kemarin-kemarin pak kayak gini?" Itu salahnya! Makanya buat saya itu salah keluarganya!
Saudaraku, Allah lah Yang Maha Tahu. Allah menerapkan hukum potong tangan di masa kita, Allah pasti sudah tahu kalau di zaman kita orangnya tidak cukup dikasih tahu hanya dengan kata-kata. Dan itu sudah terbukti sekarang betapa keras kepalanya pejabat di negara kita.
Di akhir saya berdoa "semoga Indonesia lekas terbebas dari korupsi, agar kemakmuran bisa merata sampai ke pelosok negeri."

Billahit taufiq wal hidayah

awan Sabtu, 06 September 2014
Takut

Semoga menjadi pelajaran.

Sebuah kisah yang saya lihat dari video di Youtube. Kisah ini diceritakan oleh seorang Syekh dari Timur Tengah. Beliau menceritakan kisah sekelompok pemuda yang sedang melakukan perjalanan menuju suatu daerah. Perjalanan tersebut mengharuskan mereka melewati hutan, dan saat malam tiba mereka memutuskan untuk bermalam di pinggir hutan. Saat malam telah larut, beberapa dari mereka terbangun karena mendengar suara singa. Dan benar saja ternyata singa tersebut mendekat ke arah perkemahan mereka. Sontak mereka lari dan memanjat pohon untuk menyelamatkan diri. Tanpa mereka ketahui, ternyata ada satu orang teman mereka yang sedang melakukan shalat malam (Tahajjud).

Singa tersebut mendekati pemuda tersebut, mengelilinginya berkali-kali sambil mengaum. Pemuda tersebut tidak beranjak sejengkal pun dan tetap melaksanakan shalatnya. Hingga beberapa saat kemudian singa tersebut pergi, kembali ke dalam hutan.

Setelah kondisi aman, teman-teman pemuda tersebut turun dari pohon dan menghampiri pemuda itu. Sambil khawatir mereka berkata "Engkau sudah gila, ada singa mengapa kau tidak menyelamatkan diri?" Dengan tenang pemuda itu menjawab " Saya sedang berdiri menghadap Allah, pantaskah saya lebih takut kepada ciptaanNya?".

Masya Allah. Sungguh sebuah kekhusyukan yang berada di level tertinggi.

Saya menangis dan sekaligus malu kepada Allah. Begitu besar ancaman bahaya di depan mata yang dialami pemuda tersebut, tidak membuatnya gentar, karena dia hanya takut kepada Allah! Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita se-khusyuk pemuda tersebut? Sudahkah kita takut kepada Allah?
Kita lebih takut kepada harta, takut kekurangan dan takut kehilangan. Kita lebih takut kepada atasan, takut dipecat, takut dipotong gaji. Kita lebih takut kepada jabatan, takut tidak dihormati, takut tidak mendapat jatah kursi. Kita ternyata lebih takut terhadap dunia, daripada kepadaYang Menciptakan Dunia!
Astagfirullah.....Astagfirullah...

Saudaraku, takutlah kalian kepada diri kalian sendiri, kepada hawa nafsu kalian sendiri, ber-mawas dirilah, dengan begitu engkau pun akan menemukan jalan untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala......

Billahit taufiq wal hidayah.

awan Selasa, 02 September 2014
Laknat Israel!!!

Saya sedikit tersentak sekaligus heran melihat video yang baru saja saya lihat di Youtube. Video tentang penyesalan seekor harimau setelah membunuh  kera. Harimau yang kita kenal dengan insting membunuh yang tajam dan tak kenal ampun,kali ini tunduk dan menyesal dan tiba-tiba memiliki kasih sayang.
Sang harimau sedang berjalan mencari makan di sebuah hutan Afrika. Harimau tersebut mengincar seekor kera dan secara tiba-tiba menyerang kera tersebut. Kera yang tidak sanggup melawan pun mati dalam terkaman sang harimau. Harimau tersebut kemudian membawa kera hasil tangkapannya ke tempat yang aman.
Saat harimau tersebut menyeret si kera, ternyata di punggung si kera tersebut menempel dengan erat anak kera yang baru berumur 2 bulan. Ya...ternyata harimau tersebut membunuh seekor induk kera yang sedang mengasuh anaknya. Mendadak, harimau tersebut berhenti dan melepaskan sang induk yang sudah mati. Harimau itu beralih fokus kepada bayi kera yang mungil. Harimau tersebut berputar di sekeliling bayi kera. Dan yang terjadi berikutnya sangat mengagetkan, saya berpikir harimau itu akan menelan bayi kera itu mentah-mentah. Ternyata tidak! Harimau itu malah menjilati anak kera tersebut, mencium dan mengendus-endus layaknya seorang induk kera. Dari balik semak muncul Hyena yang mengetahui ada santapan enak yaitu bayi kera. Dengan sigap harimau tersebut membawa bayi kera ke atas pohon, ke tempat aman, dan dengan berani pula mengusir Hyena tersebut. Sang Harimau kemudian kembali ke bayi kera dan menghangatkannya sampai bayi kera tersebut tertidur, tanpa memikirkan santapannya yaitu induk kera yang dibunuhnya. Subhanallah, Allahu Akbar!

Apabila seekor harimau yang terkenalkejam dan telah diberi insting membunuh masih mau berkasih sayang dan berbelas kasih, mengapa manusia malah sebaliknya?? Manusia yang derajatnya dan kemampuannya jauuuh di atas hewan,mengapa malah lebih kejam dari harimau sekalipun? Israel, membunuh wanita dan anak-anak, mereka lebih kejam dari hewan dan lebih hina dari makhluk yang paling hina!!! La'natullahu 'alaih!

awan
free counters