Dari jasmani sampai rohani

Ironis. Satu kata yang lebih dari cukup untuk mendeskripsikan betapa rusaknya mental pejabat di negeri tercinta ini. Telinga ini lagi-lagi harus mendengar kata korupsi. Basi ya? Tapi itu yang terjadi. Korupsi di kalangan elit DPR hingga ke kursi empuk kementrian. Mulai dari urusan perut atau jasmani; korupsi daging sapi, korupsi pengadaan sarana olahraga, korupsi di bidang energi, sampai ke korupsi urusan kebutuhan rohani a.k.a dana haji. Hancurnya negeriku.
Indonesia yang katanya negeri kaya memang benar, kaya pejabatnya. Katanya orangnya pinter-pinter dan kreatif emang benar, pinter nipu dan kreatif ngeles alias bersilat lidah, pinter akting juga di depan wartawan hihihi. Yaah itulah kenyataan yang dihadapi kalau diberi ujian harta dan tahta. Terima saja sekarang hukuman dunianya.
Anyway, sebenarnya ada solusi dari semua masalah mental ini. Yaa saya kan menulis bukan bermaksud menghujat, biar nggak dikira menghujat makanya saya coba kasih solusi. Cuma ada satu solusiny, belajar dari sejarah.
Saya sebagai muslim, percaya bahwa semua masalah ada solusinya di dalam Al Qur'an. Kita lihat sejarah Nabi-nabi dan permasalahan yang terjadi di dalamnya. Perlu diingat, Allah SWT menceritakan kisah Nabi di Al Qur'an bukan untuk menjadi sebuah dongeng, tapi sebuah pelajaran. Mari sedikit saya jabarkan sesuai pemahaman yang saya tahu.
Nabi-nabi oleh Allah SWT diturunkan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh umatnya yang menyalahi aturan Allah SWT. Contoh, umat Nabi Nuh adalah umat yang pandai. Mereka pandai berbicara dan berargumentasi. Akan tetapi moral mereka rusak karena menyembah berhala. Allah menegur mereka dengan menurunkan Nabi Nuh dengan salah satu mukjizat pandai berargumentasi. Karena masih keras kepala, maka Allah menghukum mereka dengan ditenggelamkan. Hal dan masalah serupa juga terjadi di zaman Nabi Ibrahim, Allah menganugerahi beliau pikiran yang cerdas dan kemampuan berargumentasi yang sangat kuat. Bahkan beliau adalah manusia dengan IQ tertinggi. Yaa, Ibrahim a.s bukan Einstein. Di masa Nabi setelah itu ada Nabi Musa. Di era Nabi Musa, masyarakatnya sangat fanatik dan percaya dengan sihir. Dan pentolan dunia gelap mereka adalah Fir'aun. Allah pun menurunkan Nabi Musa dengan mukjizat mampu merubah tongkat menjadi ular yang seolah-olah seperti sihir menurut mereka. Lanjut lagi ke masa Nabi Isa. Masyarakat pada masa itu sangat "mendewakan" pengobatan, baik secara medis oleh tabib ataupu  secara magis oleh dukun. Lagi-lagi Allah menurunkan Nabi dengan mukjizat mampu menyembuhkan  orang berpenyakit lepra dan buta dari lahir, yaitu Nabi Isa. Dan di masa Nabi Muhammad SAW, masalah yang dihadapi adalah kerusakan mental secara menyeluruh di semua aspek kehidupan. Allah pun mengutus Nabi terakhir yang ditugaskan untuk memperbaiki akhlak manusia. Allah pun tak lupa memberi "guide book" yaitu Al Qur'an sebagai pedoman perbaikan akhlak, dan Al Hadist yang bersumber dari Nabi Mubammad SAW sebagai contoh sempurna sebaik-baik akhlak.
Mari kita lihat polanya. Masalah datang kemudian diutus orang yang sesuai dengan bidangnya. Apabila masih keras kepala, hukuman lah sebagai jalan terakhir sebagai wujud ketegasan. Apabila hal ini kita terapkan di Indonesia, saya jamin 1000% tidak akan lagi korupsi di Indonesia. Kita laksanakan hukuman sesuai petunjuk dari Allah yaitu potong tangan. Hukum ini sangat layak dan bahkan wajib dilaksanakan di Indonesia, fungsinya untuk efek jera. Mengapa? Karena masyarakat kita terutama pejabat itu tidak kapok dan tidak takut melihat teman sejawatnya hanya dipenjara saja. Mereka sampe detik ini pun masih berani korupsi, karena hukumannya ringan. Terlalu ringan untuk sekelas koruptor "sang pembunuh masal". Buktinya masih ada aja tuh yang korupsi. Sampai dana haji lagi yang di korupsi. Wong edan memang.
Makanya coba deh terapin sekali saja hukum potong tangan untuk koruptor. Bawa ke tengah keramaian, disaksikan masyarakat, di tayangkan di semua media, supaya pejabat lain yang mau korupsi bener-bener takut untuk korupsi. Mungkin ada yang koar-koar itu melanggar HAM atau itu bikin malu keluarganya. Hey saya kasih tahu, jangan takut sama tanggapan negara lain! Ini urusan negara kita, kita yang lebih tahu, biarkan saja mereka komentar! Biar ini jadi contoh bahwa kita bangsa yang tegas! Kalau untuk argumen yang bilang nanti bikin malu keluarganya, saya cuma bisa bilang; sukurin! Saya kasih tahu ya, hampir 90% motivasi si pejabat itu korupsi ya gara-gara keluarganya. Keluarganya hidup konsumtif, hedonis, dan foya-foya. Bapak-bapak yang tugasnya nyari duit, pasti ngelakuin apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya! Selain itu, keluarganya juga salah karena tidak cermat. Suami misalnya bulan kemarin gaji cuma 5 juta, bulan ini ngasih uang 20 juta. Istrinya diem aja, tidak nanya dulu ini uang darimana! Yang ada malah bilang "Kenapa nggak dari kemarin-kemarin pak kayak gini?" Itu salahnya! Makanya buat saya itu salah keluarganya!
Saudaraku, Allah lah Yang Maha Tahu. Allah menerapkan hukum potong tangan di masa kita, Allah pasti sudah tahu kalau di zaman kita orangnya tidak cukup dikasih tahu hanya dengan kata-kata. Dan itu sudah terbukti sekarang betapa keras kepalanya pejabat di negara kita.
Di akhir saya berdoa "semoga Indonesia lekas terbebas dari korupsi, agar kemakmuran bisa merata sampai ke pelosok negeri."

Billahit taufiq wal hidayah

free counters