Puasa-part 1(Sejarah Puasa)



Secara makna berarti menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Definisi ini telah kita ketahui sejak kita berada di bangku SD.Pembahasan mengenai puasa ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah sejarah puasa, yang kedua adalah perbandingan puasa, dan yang ketiga adalah puasa yang bermakna.

Pada bagian pertama ini saya ingin mencoba membahas sejarah puasa, dimana hasil tulisan ini merupakan salah satu materi kuliah tarawih di Masjid Al-Hijri, Bogor Tengah yang saya modifikasi.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, dalil puasa yang sering kita dengar adalah Qur'an Surat Al Baqoroh ayat 183 yang berarti " Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Melihat ayat tersebut, kita mendapatkan 3 kata kunci. Yaitu iman, puasa, dan takwa. Darimana saja kita memulai 3 kata kunci tersebut, hasilnya adalah takwa.

Orang yg punya Iman, akan melakukan Puasa, dan orang yang berpuasa merupakan ciri orang yang Takwa.

Orang yang berPuasa atas dasar Iman, akan menjadi orang yang Takwa. Dan orang yang Takwa, pasti berIman, dan orang yang beriman terkena hukum wajib Puasa.

Sama saja, darimana saja kita memulai mengotak atik 3 kata kunci dari ayat tersebut, hasilnya sama saja.

Tetapi bukan itu yang akan saya bahas. Yang akan saya bahas adalah kalimat "sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu".

Apabila kita melihat sejarah di Al Qur'an, puasa telah diwajibkan sejak zaman Nabi Adam, waktunya sama yaitu bulan Ramadhan selama 30 hari.Akan tetapi, puasa orang-orang terdahulu durasinya berbeda dengan kita sekarang.

Umat terdahulu apabila berpuasa, dimulai sejak terbit fajar, dan berbuka pada waktu maghrib sampai 'isya, dan setelah 'isya puasa dilanjutkan kembali dan berbuka pada saat sahur hari berikutnya.

Perintah Allah SWT bagi umat terdahulu adalah berpuasa kurang lebih 22-23 jam.

Sampai wahyu wajib puasa diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, durasi puasa ini pun belum berubah. Sehingga pada awal diwajibkan puasa, Nabi dan para sahabat masih berpuasa seperti itu.

Sampai suatu hari para sahabat merasa tidak sanggup menjalani puasa ini, terutama dalam hal hubungan suami istri, dan akhirnya Rasulullah SAW bermunajat kepada Allah untuk meminta keringanan untuk umatnya.

Setelah sekian lama bermunajat, akhirnya turun wahyu untuk memperpendek durasi puasa, yaitu dimulai saat terbit fajar hingga terbenamnya matahari yang dapat dilihat pada Qur'an Surat Al Baqoroh ayat 187

Itulah Rasulullah, sosok yang patut kita jadikan teladan. Setiap kali Rasulullah mendapat perintah dari Allah SWT bagi umatnya, beliau selalu meminta keringanan.

Pada saat Isra' Mi'raj dan umat Nabi diwajibkan salat, Allah memerintahkan untuk salat 50 waktu dalam sehari. Bisa dibayangkan setiap setengah jam sekali kita melakukan salat?

Nabi meminta keringanan kepada Allah SWT sampai 10 waktu salat. Akan tetapi, Nabi Musa yg berada di langit ke tujuh menasihati Nabi Muhammad agar meminta keringanan kembali.

Dan akhirnya perintah salat turun untuk 5 waktu saja, itupun kita masih berat menjalankannya. Begitu juga dengan perintah puasa, Nabi Muhammad SAW selalu meminta keringanan kepada Allah SWT karena beliau tahu bahwa umatnya tidak sanggup menjalankan puasa 23 jam.

Pelajaran yang bisa kita ambil mengenai sejarah puasa ini adalah betapa disayangnya kita oleh Allah SWT, sehingga waktu puasa kita tidak disamakan dengan orang-orang terdahulu. Maka sebagai umat yang disayang, apakah tidak sepantasnya kita selalu bersyukur dan mengagungkan Asma-Nya? Mengapa sebagai umat yang disayang kita malah menjadi bermalas-malasan? Wallahu'alam bi shawab.

Insya Allah bersambung....

free counters