Mohon maaf, udah lama rasanya saya tidak posting disini. Mungkin ada lebih dari satu tahun saya tidak menginjak ranah per-blog-an. Beberapa bulan ini saya disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang menurut saya malah jadi menyibukkan saya sendiri. Ditambah lagi laptop kesayangan tersiram air, yasudah deh....ikhlas hehehe.
بسم الله الرحمن الرحيم
Belakangan ini saya menerima tekanan dari bisnis saya yang cukup membuat depresi. Selalu ada masalah yang menghalangi saya, seakan-akan masalah itu sulit sekali untuk dipecahkan. Well, sebagai pedagang pastinya pembaca semua tahu masalah utama yang dihadapi yaitu kurangnya modal usaha berupa uang. Uang yang saya butuhkan untuk pengembangan "dagangan" saya lumayan besar. Hampir mencapai 8 digit angka. Putar otak putar otak putar otak, akhirnya saya dapat solusi saat mengikuti salah satu training bisnis di Bandung. Begitu pulang dari Bandung, saya diskusikan dengan rekan-rekan seperjuangan. Hasilnya mereka setuju dan mantap untuk eksekusi ide tersebut. Dengan semangat membara saya mulai menghitung-hitung nilai bisnisnya. Oiya sedikit bocoran, business coaching itu membahas tentang bagaimana membeli barang-barang investasi tanpa harus menggunakan uang kita sendiri. Terus uang siapa? Ya siapa lagi kalau bukan uang dari Bank. Simpelnya begini, kebutuhan investasi yang diperlukan misalnya 150 juta. Kita mengajukan pinjaman di Bank dengan nilai minimal 300 juta dengan tenor 5 tahun misalnya. Nah, setelah melalui proses nego cas cis cus dengan orang Bank, dan uang pinjaman pun cair, kita mulai bayarkan barang yang kita butuhkan untuk investasi. 300 juta dikurangi 150 juta, jadi sisanya sertus lima puluh ju........taaa. Surat kepemilikan barang investasi kita jadikan jaminan di Bank. Tadi kan ada sisa uang 150 juta lagi ya?(asiiik jajaaan hahaha....) Ya gapapa buat jajan, paling habis itu tidurnya di penjara.
Oke, serius lagi. Uang 150 juta sisa "belanja" tadi kita investasikan ke perusahaan ternama dalam tenggang waktu yang sama seperti masa pinjaman di Bank, dimana setiap bulannya kita akan memperoleh propit share (maaf saya nggak bisa ngomong "F"). Nah, uang profit share (itu bisa ngomong "F") itu kemudian kita bayarkan ke Bank untuk membayar cicilan pinjaman. Memang gampang kalau ngomong doang mah, kenyataannya tak sejalan dengan harapan. Bahkan, sebelum sempat saya eksekusi ide itu, teman sepermainan saya malah jadi ragu. Saya masih ingat SMS dari teman saya itu "Wan, gw ragu ama cara itu, gw takut riba." Saya jawab dengan semangat saking antusiasnya saya, dan saking setan udah "nongkrong" di pikiran saya, "Kan kita nggak makan bunganya, broo." Teman saya balas lagi, " Tapi kita bayar pinjaman plus cicilan, sama aja memakmurkan riba." JEGEEEEERRRRR!!!!! Ibarat disamber petir, saya langsung tersadar, setelah sebelumnya pingsan (ehmm lebay).
Astagfirullah....bener banget perkataan teman saya ini. Sejenak saya tarik diri saya di atas awan Indonesia. Mata saya melihat ke bawah, ke semua kota di Indonesia. Apa yang saya lihat? Ratusan bangunan Bank yang letaknya dempet-dempetan. Artinya apa? Artinya hampir semua sendi ekonomi kita khususnya masalah permodalan, dikuasai oleh Perbankan. Lebih dalam lagi, masyarakat kita sudah terbiasa memakan riba. Saya turun lagi ke Bumi...sreettt. (nyalain rokok, duduk diem). Pikiran saya kembali menerawang jauh ke padang pasir Arab Saudi, tepatnya Mekkah Al Mukaramah. Saya rewind waktu sampai 1400 tahun yang lalu. Saya seakan-akan melihat Rasulullah SAW berbicara di hadapan saya, setelah melakukan haji wada'.
Beliau SAW berpesan, "Mulai hari ini, diharamkan segala jenis riba. Dan praktek ribawi yang pertama kali aku larang adalah praktek yang dilakukan pamanku sendiri." Di lain kesempatan, Beliau SAW bersabda, "Salah satu tanda-tanda kiamat yang sudah terjadi adalah manusia tidak memperdulikan lagi darimana hartanya berasal, dan praktek riba sudah dianggap wajar." Saya tersentak, petir yang kedua kali JEGEEER JEGEERRR!!!! Bukankah ini sudah terjadi? Bukankah di Indonesia sudah terdapat ratusan Bank? Bukankah masyarakat sudah menganggap wajar hal tersebut? Mereka tidak sadar, atau pura-pura tidak tahu? Mungkin mereka berpikir," Ah, modal pertama dari Bank, tinggal kita sedekahin udah jadi berkah." Oke kalau itu pemikiran yang kalian anggap benar, tapi bagaimana nasib Anda ketika nanti di Yaumul Hisab Anda berdiri di hadapan Sang Maha Adil? Apabila ditanya, darimana hartamu? Anda bisa berbohong? Sama sekali tidak!!!!! Na'udzubillah.
Demi Allah, saya takut, takut sekali dengan siksa dan murka Allah SWT. Allah Maha Teliti perhitungannya. Tidak ada satupun yang lepas dari perhitungan-Nya. Takutlah kepada Allah. Takutlah kepada Allah!
Akhirnya, saya tersadar. Saya bersyukur Allah masih memperingatkan saya melalui lisan teman saya. Seorang Awan hanyalah makhluk lemah, lemah akal, dan banyak kesalahannya. Kalau bukan karena kasih sayang Allah SWT, mungkin saya sudah tersesat jauh, jauuuh sekali. Dan di malam itu, satu pertanyaan masih menggantung di otak saya. "Darimana lagi saya harus mencari tambahan modal?"
bersambung ke Chapter 2...........
